Implementasi Program Penarikan Alat Kesehatan Bermerkuri Di Puskesmas Kecamatan Sukmajaya

Isi Artikel Utama

Elza Muthia Septanti
https://orcid.org/0000-0001-8284-153X
Tri Joko
Nurjazuli Nurjazuli

Abstrak

Sektor kesehatan adalah salah satu sumber emisi merkuri terpenting di seluruh dunia karena penggunaannya dalam peralatan medis. Hg ditemukan dalam termometer, sphygmomanometer, dan amalgam gigi. Faktor resiko akibat merkuri dapat muncul apabila alat kesehatan yang mengandung merkuri rusak, pecah, ataupun tumpah. Pemerintah Indonesia mengeluarkan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 41 Tahun 2019 mengenai Penghapusan dan Penarikan Alat Kesehatan Bermerkuri di Fasilitas Pelayanan Kesehatan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengevaluasi program penarikan alat kesehatan bermerkuri di Puskesmas yang berada di Kecamatan Sukmajaya, yaitu Puskesmas Abadijaya, Puskesmas Baktijaya, Puskesmas Pondok Sukmajaya, dan Puskesmas Sukmajaya. Penelitian mengenai evaluasi program penghapusan alat kesehatan bermerkuri di pusat kesehatan masyarakat Kecamatan Sukmajaya dilakukan menggunakan jenis penelitian observasional deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Program Penarikan Alat Kesehatan Bermerkuri di Pusat Kesehatan Masyarakat Kecamatan Sukmajaya belum 100% berhasil, seluruh puskesmas telah menghentikan penggunaan alat kesehatan bermerkuri dan berganti ke alat kesehatan non merkuri, namun pengelolaan yang dilakukan oleh puskesmas belum memenuhi syarat karena masih ditemukannya penyimpanan alat kesehatan bermerkuri yang tidak sesuai dengan standar. Penarikan alat kesehatan bermerkuri juga belum dilakukan oleh Dinas Kesehatan dan pembinaan serta pengawasan program juga tidak berjalan sesuai standar.

Rincian Artikel

Bagian
policies
Biografi Penulis

Elza Muthia Septanti, Diponegoro University

Peminatan Kesehatan Lingkungan Fakultas Kesehatan Masyarakat

Tri Joko, Diponegoro University

Bagian Kesehatan Lingkungan Fakultas Kesehatan Masyarakat

Nurjazuli Nurjazuli, Diponegoro University

Bagian Kesehatan Lingkungan Fakultas Kesehatan Masyarakat

Referensi

Hadi MC, Pembahasan H. M. Choirul Hadi 1 JSH V10N2. :175–83.

Jiang L, Zhang R, Zhang L, Zheng R, Zhong M. Improving the regulatory health risk assessment of mercury-contaminated sites. J Hazard Mater. 2021 Jan 15;402:123493.

Soprima M, Kusnoputranto, Haryoto I. Merkuri pada Pertambangan Emas Rakyat di Kabupaten Lebak, Banten: Community Health Risk Assessment due to Disposed Mercury at Artisanal Gold Mining in Lebak District , Banten. J Ekol Kesehat. 2015;14(4):296–308.

Permenkes. Berita Negara. Menteri Kesehatan Republik Indonesia Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia. 2019.

Muslim A. Merkuri dan Keberadaannya. Banda Aceh: Syiah Kuala University Press; 2020. 274 p.

Gavilán-García IC, Fernández-Villagomez G, Gavilán-García A, Alcántara-Concepcion V. Alternatives of management and disposal for mercury thermometers at the end of their life from Mexican health care institutions. J Clean Prod. 2015 Jan 1;86:118–24.

Li P, Yang Y, Xiong W. Impacts of Mercury Pollution Controls on Atmospheric Mercury Concentration and Occupational Mercury Exposure in a Hospital. Biol Trace Elem Res. 2015; 330–334.

Aaseth J, Hilt B, Bjørklund G. Mercury exposure and health impacts in dental personnel. Environ Res. 2018 Jul 1;164:65–9.

Harari R, Harari F, Gerhardsson L, Lundh T, Skerfving S, Strömberg U, et al. Exposure and toxic effects of elemental mercury in gold-mining activities in Ecuador. Toxicol Lett. 2012 Aug 13;213(1):75–82.

Hardani. Metode Penelitian Kualitatif dan Kuantitatif. Yogyakarta: Pustaka Ilmu; 2020.

Barlian E. Metodologi Penelitian Kualitatif dan Kuantitatif [Internet]. Sukabina Press; 2016. 178 p. Available from: https://osf.io/preprints/inarxiv/aucjd/

Xuegang X. A model of Korotkoff sounds method electronic sphygmomanometer equivalent to the mercury one. J Med Coll PLA. 2010 Feb 1;25(1):19–23.

Kuepouo G. Estimating environmental release of mercury from medical-thermometers and potential “hot spot” development: Case study of need for improved waste management capacity in Cameroon. Resour Conserv Recycl. 2013 Feb 1;71:48–52.